Breaking News

Home / Berita Unggulan / Wisata

Kamis, 22 Mei 2025 - 16:45 WIB

Geopark Kaldera Toba Dapat “Kartu Kuning” dari UNESCO

Geopark Kaldera Toba Dapat “Kartu Kuning” dari UNESCO, Kemenpar Siapkan Langkah Perbaikan Serius. foto: Kemenpar

Geopark Kaldera Toba Dapat “Kartu Kuning” dari UNESCO, Kemenpar Siapkan Langkah Perbaikan Serius. foto: Kemenpar

Kemenpar tanggapi serius “yellow card” UNESCO untuk Geopark Kaldera Toba dengan langkah konkret, dari edukasi geosite hingga dana Rp56,6 M untuk revitalisasi

Kilasinformasi.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bergerak cepat menanggapi peringatan “yellow card” atau kartu kuning dari UNESCO terhadap Geopark Kaldera Toba. Peringatan ini menjadi sinyal penting bahwa pengelolaan kawasan warisan dunia tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar global yang ditetapkan UNESCO.

Dalam pertemuan di Jakarta, Kemenpar mengundang Dr. Azizul Kholis, General Manager Badan Pengelola Kaldera Toba UNESCO Global Geopark (UGGp), untuk membahas langkah-langkah strategis. Azizul menyampaikan bahwa evaluasi terbaru dari UNESCO akan dilakukan pada 15 Juli 2025, dan pihaknya membutuhkan waktu dua bulan untuk melakukan pembenahan menyeluruh.

Baca Juga, Kilasinformasi: Pasar Murah Hadir di Candibinangun: Langkah Nyata Sleman Ringankan Beban Warga

“Kami optimistis bisa kembali ke green card dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat hingga daerah. Gubernur Sumatera Utara juga memberikan perhatian besar terhadap hal ini,” ujar Azizul.

Dalam rapat UNESCO Global Geopark yang digelar di Maroko pada September 2023, Kaldera Toba menjadi salah satu dari beberapa kawasan yang menerima peringatan. Daftar lainnya termasuk Gua Zhijindong (Tiongkok), Taman Nasional Luberon (Prancis), Madonie (Italia), serta Colca y Volcanes de Andagua (Peru).

Peringatan ini menandakan adanya sejumlah ketidaksesuaian terhadap kriteria UGGp, seperti pengelolaan warisan geologi, keterlibatan komunitas, kemitraan, serta promosi dan interpretasi kawasan.

Deputi Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto, menegaskan bahwa kementeriannya telah menyusun langkah-langkah konkret untuk menanggapi rekomendasi UNESCO. Pemerintah tidak hanya fokus pada pembenahan teknis, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguatan kelembagaan.

Baca Juga, Kilasinformasi: Winda, Pelajar Skansa Batang Lolos Jadi Capaska Jateng 2025

Beberapa strategi utama yang tengah dijalankan Kemenpar antara lain:

  • Pemasangan panel interpretasi di sejumlah geosite untuk memperkaya narasi geologi dan nilai edukatif kawasan.

  • Penyelenggaraan event MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) untuk mendukung promosi Kaldera Toba sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.

  • Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) 2024 sebesar Rp56,6 miliar untuk pengembangan infrastruktur dan kegiatan nonfisik di 8 kabupaten sekitar Danau Toba: Dairi, Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Toba, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, dan Samosir.

Baca Juga:  Kemenpar Perkuat Gerakan Wisata Bersih di Pagar Alam untuk Dorong Pariwisata Berkelanjutan

Tak hanya itu, revitalisasi geosite seperti Monkey Forest Sibaganding dan Pulau Sibandang juga menjadi bagian dari agenda prioritas.

Kemenpar terus menjalin koordinasi erat dengan Badan Pengelola Kaldera Toba dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Bahkan, pada 2026 nanti direncanakan penyusunan siteplan terpadu untuk berbagai geosite, sebagai upaya memperkuat manajemen geopark agar lebih sistematis dan terstandar global.

Baca Juga, Kilasinformasi: Bupati Batang: Biarkan Anak Bertanding Tanpa Tekanan, Prestasi Akan Mengikuti

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan dukungan penuh kepada pengelola Kaldera Toba. “Status UNESCO Global Geopark adalah sebuah kehormatan, tapi juga membawa tanggung jawab besar. Kami ingin memastikan bahwa pengelolaan kawasan ini sesuai prinsip keberlanjutan dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan pariwisata nasional,” tegasnya.

Geopark Kaldera Toba bukan hanya simbol keindahan alam, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian geologi serta budaya. Dengan semangat kolaboratif, upaya perbaikan yang sedang dijalankan diharapkan bisa mengembalikan status “green card” dari UNESCO. Lebih dari itu, Kaldera Toba diharapkan bisa menjadi model pengelolaan geopark berstandar internasional yang sukses di Asia Tenggara.

Sumber: Kemenpar

Share :

Baca Juga

Berita Unggulan

Wamenpora Dukung Pembangunan GOR di Papua Tengah

Berita Unggulan

Komdigi Siapkan 386 Posko dan 1.500 Personel untuk Menjaga Kualitas Telekomunikasi Selama Mudik dan Nyepi 2025

Berita Unggulan

Raih Penampilan Stand Terbaik, Tim UMKM IKBY Banjir Pesanan

Berita Unggulan

Kemenag Buka Kursus Baca Al-Qur’an dan Kitab Kuning di Ramadan 1446 H, Daftar Sekarang Sebelum Kehabisan!

Berita Unggulan

Pemerintah Siapkan 3.000 SPKLU untuk Menjamin Kenyamanan Pemudik Kendaraan Listrik

Berita Unggulan

Wapres Gibran Tak Akan Pindah Kantor ke Papua, Ini Penjelasan Menko Yusril

Berita Unggulan

Indonesia Catat Sejarah! PSSI Luncurkan Program Beasiswa Pelatih Wanita Pertama di Asia Bersama FIFA dan Bali United

Berita Unggulan

KAI Daop 6 Yogyakarta Ingatkan Pemudik untuk Waspada dan Disiplin di Perlintasan Sebidang