Breaking News

Home / Berita Unggulan / Budaya / Daerah / Ekonomi / Favorite / Lifestyle

Kamis, 20 November 2025 - 12:43 WIB

JCWF 2025 Week #4 Hadirkan Wellness Berbasis Budaya: Keluarga, Inner Child, dan Keindahan Alam

JCWF 2025 Week #4 hadir di Yogyakarta dengan tema wellness berbasis budaya, inner child, keluarga, dan berbagai workshop edukatif. foto: Istimewa

JCWF 2025 Week #4 hadir di Yogyakarta dengan tema wellness berbasis budaya, inner child, keluarga, dan berbagai workshop edukatif. foto: Istimewa

Yogyakarta, Nasionalku.com – Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 memasuki WEEK #4 dengan menegaskan kembali posisi Yogyakarta sebagai laboratorium kultural bagi pengembangan wellness tourism berbasis nilai-nilai lokal. Melalui tema “Natural Beauty, Family & Inner Child”, festival ini tidak sekadar menawarkan program hiburan, tetapi mengintegrasikan pendekatan interdisipliner yang melibatkan aspek pendidikan, kesehatan holistik, psikologi budaya, hingga ekologi manusia.

Di bawah kepemimpinan GKR Bendara sebagai Chairwoman JCWF 2025, festival ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman bahwa konsep wellness masa kini harus berpijak pada kearifan budaya sebagai fondasi identitas kolektif. Pendekatan tersebut sejalan dengan kecenderungan akademik global yang menempatkan budaya sebagai determinan penting dalam praktik well-being, social resilience, dan penguatan kualitas hidup masyarakat.

foto: istimewa

Dialog Akademik dan Penguatan Literasi Wellness

Sesi Talkshow I dan II menghadirkan diskursus terkait pendidikan karakter dan konstruksi pengalaman wellness yang berlandaskan seni, budaya, dan alam. Talkshow I, bertema “Membangun Karakter Anak dengan Aktivitas Seni, Budaya, dan Alam”, menggarisbawahi bagaimana interaksi anak dengan ruang budaya mampu membentuk modal sosial, kepekaan emosional, serta integritas personal.

Talkshow II, “Wellness Networking: Merangkai Pengalaman Wellness yang Berbasis Budaya”, memfasilitasi dialog lintas disiplin antara praktisi, akademisi, dan pelaku industri untuk memperkaya ekosistem wellness yang bersifat kolaboratif dan inklusif.

Kedua diskursus ini menegaskan posisi JCWF sebagai ruang intelektual yang mendorong integrasi antara teori dan praktik, antara pengetahuan tradisional dan keilmuan modern.

Workshop sebagai Ruang Translasi Pengetahuan

Serangkaian workshop, mulai dari relaksasi head & hand massage, tes kepribadian, mindful brewing, hingga pengelolaan sampah organik menjadi pupuk, berfungsi sebagai laboratorium partisipatif di mana pengetahuan akademik diterjemahkan ke dalam praktik keseharian.

Baca Juga:  Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah Penuaan Dini: Rahasia Olahraga untuk Umur Panjang

Program Mindful Brewing (coffee & matcha), misalnya, mencerminkan pendekatan fenomenologis tentang bagaimana aktivitas sederhana dapat menjadi medium pemulihan kesadaran dan peningkatan kehadiran diri (presence). Sementara itu, workshop pengolahan sampah organik menempatkan wellness dalam perspektif ekologis, mengingat bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan.

Pendekatan transdisipliner ini sejalan dengan visi GKR Bendara untuk memfasilitasi model wellness yang tidak hanya estetis, tetapi juga berorientasi pada pendidikan, pemberdayaan, dan keberlanjutan.

Foto: istimewa

Dimensi Filosofis: Inner Child dalam Perspektif Jawa

Tema Inner Child diperkaya dengan pembacaan filosofis terhadap tradisi Jawa. Konsep mulih maring asal dan ajaran ngerti, ngrasa, nglakoni menggarisbawahi pentingnya kembali pada ketenangan batin sebagai prasyarat kematangan psikologis dan spiritual.

Rangkaian program ini merefleksikan pemahaman bahwa wellness bukanlah entitas tunggal, melainkan proses multidimensi yang menyentuh aspek tubuh, rasa, pikiran, dan laku. Perspektif ini selaras dengan arah kebijakan GKR Bendara yang memandang wellness berbasis budaya sebagai instrumen transformasi sosial yang lembut namun fundamental.

Yogyakarta sebagai Pusat Inovasi Wellness Berbasis Budaya

Dengan dukungan Yogyakarta Tourism Board dan berbagai mitra, WEEK #4 memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi wellness yang menggabungkan estetika budaya, pendekatan ilmiah, dan pengalaman edukatif. Model ini diharapkan menjadi kontribusi penting bagi pengembangan pariwisata yang lebih humanis, berkelanjutan, dan berorientasi pada kualitas hidup.

Sebagaimana ditegaskan GKR Bendara,
“Wellness adalah perjalanan kesadaran yang bertumpu pada hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.”

WEEK #4 merepresentasikan gagasan tersebut melalui program yang terstruktur, bernilai akademis, dan memiliki kedalaman reflektif yang kuat. (adv)

Share :

Baca Juga

Daerah

Tim Wasev Korem 071/Wijaya Kusuma Tinjau TMMD Sengkuyung Tahap II Kodim 0736/Batang TA 2025.

Berita Unggulan

Mensos Gus Ipul Ajak Pemkab Mesuji Percepat Pengentasan Kemiskinan Lewat DTSEN, Begini Langkah-Langkah Konkret yang Ditempuh!

Berita Unggulan

Imigrasi Soetta Gagalkan Keberangkatan 137 PMI Ilegal Selama Libur Nataru

Berita

Meniti Pusaka Leluhur Ziarah Boyongan Kedaton dan Pesan Damai Para Sultan Yogyakarta

Berita Unggulan

Wali Kota Yogya Ingatkan Anak Muda Tak Jadi ‘Generasi Stroberi’ yang Mudah Rapuh

Berita Unggulan

Digitalisasi Bansos Berbasis AI: Luhut Tekankan Akurasi Data sebagai Kunci Keberhasilan

Daerah

Tinjau Program Cek Kesehatan Gratis, Wamen Ossy: Wujud Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Daerah

Program Astacita: Solusi Kota Solo Mengentaskan Kemiskinan