Breaking News

Home / Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 - 09:02 WIB

Mengenal Komunitas Trail Trabasan Yogyakarta: Bukan Sekadar Kecepatan, Tapi Strategi dan Mental Baja

YOGYAKARTA | NasionalKu.com – Bagi sebagian orang, sepeda motor mungkin hanya alat transportasi. Namun, bagi Pak Taufik dan komunitas motor trail “Trabasan” di Yogyakarta, motor adalah sarana untuk menaklukkan alam dan menguji batas kemampuan diri.

Bergabung sejak tahun 2008, Pak Taufik menjelaskan bahwa daya tarik utama dari motor trail bukanlah adu kecepatan seperti balapan pada umumnya, melainkan aspek obstacle atau rintangan.

                         Foto : istimewa

“Unsurnya itu obstacle. Bukan untuk pacuan, tapi untuk strategi dan tantangan berkaitan dengan rintangan,” ujar Pak Taufik saat diwawancarai.

Menyatu dengan Alam dan Uji Adrenalin

Kegiatan komunitas ini biasanya dilakukan di alam terbuka, mulai dari melintasi tebing, sungai berbatu, jurang, hingga medan pasir. Selain di alam liar, mereka juga kerap menjajal jalur Enduro Cross dengan rintangan buatan yang tidak kalah ekstrem.

Bagi para anggotanya, kegiatan ini adalah pelarian positif dari rutinitas pekerjaan. Menikmati pemandangan alam yang masih murni menjadi “obat” tersendiri, meskipun risiko fisik selalu mengintai.

                         Foto : istimewa

Budaya “Bully” sebagai Penguat Mental

Baca Juga:  Bupati Sleman Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2025

Ada hal unik dalam solidaritas komunitas ini. Di dunia trabasan, setiap pengendara dituntut menjadi fighter yang mandiri. Pak Taufik mengungkapkan bahwa jika seorang anggota gagal melewati rintangan, jatuh, atau motornya rusak, mereka justru akan menjadi sasaran “bully” atau ejekan dari rekan-rekannya.

Namun, jangan salah sangka. Ejekan ini bukanlah bentuk permusuhan, melainkan cara mereka memperkuat mental satu sama lain.

“Kita harus kuat di-bully. Kalau berhasil tidak dipuji, tapi kalau gagal pasti di-bully. Itu untuk memperkuat mental kita menjadi fighter sejati secara individu,” tambahnya sambil tertawa.

                          Foto : istimewa

Pesan untuk Pemula

Bagi masyarakat, terutama anak muda yang tertarik bergabung, Pak Taufik menyarankan untuk memulai dari komunitas tingkat pemula terlebih dahulu. Mengingat jalur yang ditempuh komunitasnya saat ini sudah masuk kategori ekstrem, risiko cedera serius dan kerusakan kendaraan sangat tinggi bagi mereka yang belum berpengalaman.

Untuk koordinasi di tingkat provinsi, peminat dapat memantau kegiatan melalui wadah IOF (Indonesia Off-Road Federation) Pengda DIY.

Identitas Unik

Pak Taufik sendiri dikenal di komunitas dengan panggilan akrab “Paijo” atau PA 170, yang juga menjadi identitas akun media sosialnya. Baginya, nomor dan nama tersebut adalah bagian dari kepribadian yang ia bangun selama belasan tahun bergelut di dunia tanah.

(Red / Handoko a.w)

Share :

Baca Juga

Daerah

DPD IWOI Sleman Gelar Bakti Sosial: Donor Darah, Cek Kesehatan, dan Cek Mata Gratis

Daerah

Upaya Terpadu dan Berkelanjutan untuk Tekan Kemiskinan di Kabupaten Pemalang

Berita Unggulan

Bupati Batang Sampaikan Pesan Ketauhidan Nabi Ibrahim dalam Khotbah Iduladha 2025

Berita Unggulan

Pemkot Yogyakarta Apresiasi Kinerja Kemantren Tegalrejo

Berita Unggulan

DKP3 Balangan Gelar Pelayanan Kesehatan Hewan di Pasar Paringin, Warga Antusias

Daerah

Musda XVI BPD HIPMI DIY: Peran Pemuda dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dan Indonesia Emas 2045

Berita Unggulan

Antisipasi Cuaca Ekstrem, BPBD Sleman Gelar Apel Siaga di Pakem

Berita Unggulan

100 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Diterima Pengayuh Becak Lumajang