Jakarta — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) lebih peka membaca perubahan global. Pesan itu ia sampaikan saat membuka Binus International Relations Festival (Birfest) 2025 di Kampus Binus Anggrek, Jakarta. Bima menyebut dunia saat ini menawarkan banyak pilihan sekaligus tantangan, dan generasi muda harus mampu memahami konteks yang berubah cepat.
Ia menyinggung teori klasik World Politics: The Menu for Choice untuk menggambarkan bahwa keputusan politik seseorang selalu dipengaruhi informasi dan ideologi. “Dunia itu menu for choice. Banyak skenario, banyak pilihan. Tergantung informasi dan ideologi kita, dari situ kita memutuskan,” kata Bima. Ia menambahkan bahwa perkembangan global kini jauh lebih kompleks dibanding masa Perang Dingin yang sederhana karena hanya dua blok. Kini, menurutnya, aktor dan isu politik jauh lebih beragam dan dinamis.
Bima juga menyinggung fenomena kemunculan pemimpin-pemimpin baru yang datang dari luar arus utama politik, seperti Zohran Mamdani yang terpilih sebagai Wali Kota New York dan Rob Jetten yang menjadi Perdana Menteri Belanda termuda. Ia menyebut munculnya “outsider” ini menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih melihat program konkret daripada sekadar usia.
“Zohran menawarkan hal yang real: biaya sewa murah, transportasi murah, biaya hidup terjangkau,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bima menyampaikan bahwa Indonesia sedang berada di fase penting dua dekade ke depan. Ia menilai peluang Indonesia menjadi negara maju semakin terbuka jika mampu memanfaatkan bonus demografi dan keluar dari jebakan pendapatan menengah. “Dulu negara maju terasa jauh. Sekarang 20 tahun itu dekat. Kalau memanfaatkan bonus demografi, kita bisa masuk lima besar ekonomi dunia,” tuturnya.
Kepada mahasiswa HI, Bima menekankan pentingnya pemahaman teori seperti Two-Level Games dan Prisoner’s Dilemma. Menurutnya, teori-teori tersebut membantu mahasiswa berpikir sistematis dalam melihat bagaimana aktor internasional mengambil keputusan di tengah tekanan yang berbeda-beda.
“Keunggulan mahasiswa HI itu logika. Teori-teori ini bikin kita berpikir sistematis,” katanya.
Bima mengakhiri pemaparannya dengan pesan agar mahasiswa membangun jejaring positif dan menghindari lingkungan toxic. Ia berharap mahasiswa tetap memiliki wawasan global tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai nasionalisme.
Sumber: infopublik.id





















